Hikmat dari 'Smoothing'

Kriing ...kriiiing ... "Bu, kapan ke salon ... sekarang saja, saya tunggu ya, bu.".  Rupanya Ibu Refni, demikian namanya, gemas melihat rambut saya yang tampak sudah tidak terurus. Saya memang bukan orang yang memberi perhatian khusus untuk urusan salon-menyalon. Tapi pergi juga saya hari itu ke salon  Ibu Refni. Pikirku, mau rapiin rambut saja, mumpung lagi diingatkan dan ditawarkan. "Dilurusin ya, bu?", kata Ibu Refni. Haah??? (dalam hati saya). "Sudah, tidak usah pikir-pikir", lanjut Ibu Refni.  Aneh, hari itu saya mengiyakan, padahal saya memandang itu tidak penting. Lagi pula rambut saya sebenarnya tidak keriting, mengapa harus diluruskan? Tapi sudah "Ya".

Setelah melalui beberapa tahap, mulailah rambut saya di-smoothing. Dan apa yang terjadi? Saya merasakan ini adalah suatu penderitaan yang saya cari sendiri. Sakitnya minta ampun! Bagaimana tidak sakit, rambut diambil hanya sedikit helai lalu dijepit dengan alat pelurus yang bersuhu panas, merapat dekat ke kulit kepala dan ditarik perlahan mulai dari arah bagian akar sampai ke ujung rambut. Tarikan rambut dengan jumlah helai yang relatif tipis memberi rasa nyeri yang rasa-rasanya sampai ke tulang. Sementara itu, suhu panas yang dikeluarkan oleh alat pelurus itu seakan sudah melepuhkan kulit kepala saya. Saya memandang ke cermin, oh Lord,  baru sebagian yang dikerjakan sudah sakit begini, sementara masih sebagian besar rambut saya belum tersentuh sama sekali.

Saat menahan rasa sakit itulah, Roh Kudus menyampaikan suatu pengertian kepada saya. Pengertian yang memberkati saya dan saat ini hendak saya bagikan kepada Saudara.

Pertama.
Sepertinya tidak ada yang perlu-perlu amat untuk diluruskan dari hidup kita. Kita memandang semuanya sudah berjalan cukup baik. Rasa-rasannya kita sudah cukup "lurus" di hadapan Tuhan. Tetapi ternyata, itu tidak cukup dalam pandangan Tuhan. Kasih Tuhan detil menyentuh totalitas hidup kita. Segala sesuatunya harus lurus di hadapan Dia agar hidup kita layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal.
Kolose 1:9-10 (9) Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, (10) sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.

Kedua.
Proses pelurusan itu berlangsung dalam waktu dan terkecap sebagai rasa yang amat menyakitkan. Jika yang bengkok itu tidak bengkok-bengkok amat, maka prosesnya pun tidak akan lama. Tapi bila yang bengkok itu sudah sangat bengkok, tentu akan mengambil waktu yang jauh lebih lama. Sebab tujuan Tuhan adalah meluruskan, bukan memutuskan atau mematahkan. Ini juga tergantung bagaimana kita saat diluruskan. Dalam proses 'smoothing' itu saja, saya beberapa kali memberikan reaksi. Reaksi-reaksi itulah yang mengganggu proses pelurusan tersebut dan membuat waktu penyelesaiannya menjadi lebih lama. Jika kita coba menguatkan hati kita dan sabar menanggung penderitaan guna pelurusan itu, maka ini akan memperlancar proses pelurusan tersebut. Teringat saya akan perkataan Tuhan Yesus: 
Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (Wahyu 3:19).
Banyak hal yang kita harus mengerti dari penderitaan jenis apapun yang saat ini mungkin sedang kita alami, namun satu  yang harus kita kerjakan adalah "Relakanlah hatimu dan bertobatlah". Jangan memberontak! Pemberontakan itu tidak akan menghentikan kerja kasih Tuhan di dalam hidup kita. Ia akan terus membentuk kita menjadi baik dalam pandangan-Nya karena itu mendatangkan kebaikan bagi diri kita sendiri.
Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Yeremia 18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
Ibrani 12:9-10 (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
Proses "pelurusan" menjadi lebih lama hanya oleh karena ketidakpengertian kita akan maksud-Nya dan penolakan bahkan pemberontakkan kita terhadap apa yang Ia sedang kerjakan di dalam diri dan hidup kita. Bayangkan jika saya memberontak dan tidak ingin lagi melanjutkan proses 'smoothing' itu, seperti apa jadinya rambut saya dan bagaimana buruknya rupa saya, sebab sebagian rambut saya sudah lurus sebagian lagi masih mengembang.


Ketiga.
"Let Him finish!", biarkan Tuhan mengerjakan maksud-Nya di dalam hidup kita sampai Ia sendiri berkata, "Sudah selesai". Dua kata ini tentu tidak asing bagi kita. Ya, ini adalah salah satu ucapan Yesus saat Ia sedang tersalib di bukit Golgota (Yohanes 19:30). Bayangkan bila Yesus memberontak terhadap rencana Bapa-Nya, adakah keselamatan itu bagi kita? Sungguh, tidak ada kemuliaan tanpa melalui penderitaan. Tidak ada kebangkitan, tanpa kematian. Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita justru karena Ia telah belajar taat dari apa yang diderita-Nya sampai semuanya benar-benar selesai seperti yang dikehendaki Bapa-Nya.
Ibrani 5:8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.

Saya mengajukan beberapa aplikasi. Misalkan Anda adalah seorang pelayan. Dalam perjalanan kerja pelayanan, Anda bertemu dengan pribadi atau kelompok yang secara jelas memperdengarkan perkataan atau menunjukkan sikap dan prilaku antipati terhadap Anda. Apa yang harus Anda lakukan? Tidak sedikit yang menyerah dengan melepaskan tanggung jawabnya dan ada juga yang bertahan dengan menunjukan sikap dan tindakan perlawanan. Sayang sekali. Sebab, saat-saat seperti itulah Tuhan sedang membentuk hati kita untuk menjadi seorang hamba yang benar-benar hamba, hamba yang menderita. Dan itu dimulai dari hati, hati seorang hamba. Bagaimana suatu kehambaan terlihat sebagaimana seharusnya di hadapan Tuan kita, jika kehambaan itu sendiri tidak pernah teruji? Dan saya tahu seperti apa rasanya mengecap penderitaan serupa ini. Sakitnya minta ampun. Dan itulah yang saya ingat ketika kepala saya tertarik dan kulit kepala saya terasa perih oleh tarikan helaian rambut yang tipis dan suhu panas dari alat pelurus rambut tersebut. Berhenti? Tidak. Kalau kepala saya dan rambut saya di situ, maka tubuh saya harus tetap di situ. ???? Artinya, kita harus tetap berada di mana penderitaan itu sedang menjamah hati kita. Karena pada saat itulah proses hati seorang hamba itu sedang dibentuk Tuhan pada diri kita. Namun tidak dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru menguapkan kebenaran kita sendiri di hadapan Tuhan. Sebab tidak jarang, kebenaran itu justru diperjuangkan dengan cara yang tidak benar.


Contoh lain, Anda sedang tersakiti oleh seseorang. Apa yang terjadi? Anda sedang diproses untuk memiliki hati yang mengampuni. Kalau Anda menjauhi orang tersebut, hati Anda tidak terlatih untuk mengerjakan pengampunan itu. Anda harus mengalahkan segala pikiran yang semakin menyakitkan hati Anda sehubungan dengan apa yang sudah orang itu lakukan terhadap Anda. Karena seringkali pikiran kita sendirilah yang  lebih kejam menyakiti hati kita dari pada kenyataan itu sendiri. Saat Anda berusaha, - sekali lagi, proses pelurusan ini atau proses pembentukan ini memang menyakitkan, - Anda sedang membiarkan Tuhan mengubah hati Anda seperti hati-Nya. Sebuah hati yang rela melepaskan pengampunan meski oleh karena itu kita menjadi orang yang bodoh di mata dunia. Memang ini langka sekali. Sebab sepertinya tidak banyak orang yang mau dianggap bodoh oleh dunia ini dari pada bodoh di hadapan Allah.


Yang lainnya, sesuatu yang menyakitkan harus Anda kecap terkait dengan pekerjaan Anda atau usaha Anda. Apa yang terjadi? Tarik garik vertikal, dari diri Anda kepada Tuhan. Apa yang sedang diluruskan Tuhan dengan adanya penderitaan itu? Beberapa kasus memberi jawaban akan hal ini bahwa ada ketergantungan yang berlebihan kepada pekerjaan atau usaha mereka. Mereka mendapatkan hikmat bahwa Tuhan hendak membentuk hati mereka menjadi hati yang tidak menaruh kepercayaan kepada kefanaan karena hal itu justru akan selalu menghadirkan ketidakpastian dalam hidup mereka sendiri.  Beberapa mendapatkan hikmat, bahwa mereka sudah terlalu merasa nyaman karena pekerjaan dan usaha mereka, bukan rasa nyaman karena memandang  kepada Tuhan. Yang lainnya, akhirnya menemukan bahwa pekerjaan dan usaha mereka justru menjauhkan mereka dari isteri, suami, dan anak-anak mereka, bahkan menjauhkan mereka dari persekutuan dengan Tuhan, dan sebagainya, dan sebagainya. 


Keempat.
Di sini kita pun belajar bahwa kita harus mengerti dan percaya akan maksud Tuhan di dalam kita. Saya tentu tidak akan membiarkan rambut saya ditarik sana-sini kalau saya tidak tahu apa maksud tindakan mereka. Tapi karena saya tahu apa maksud mereka mengutak-atik rambut saya, yakni untuk tujuan pelurusan, maka saya harus sabar menanggung penderitaan itu sampai proses itu selesai. Mungkin kita tidak selalu langsung dapat memahami maksud dan tujuan Tuhan dalam penderitaan kita, tetapi Saudara dan saya tahu bahwa rancangan-Nya bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan. Haleluya!
Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Bahwa tujuan-Nya adalah pelurusan. Tujuan-Nya adalah damai sejahtera. Dosalah yang  menghambat yang baik dari pada kita (Yeremia 5:5), karena itu 'Let Him finish'. Biarkan Ia membentuk ketaatan di hati  kita. Oleh sebab itu "Relakanlah hatimu dan bertobatlah!". *** [HEP]





PrevNext

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar